visualisationmagazine.com – Kanada menempatkan wirausaha perempuan Indonesia sebagai fokus penting kerja sama ekonomi bilateral. Komitmen ini menguat setelah penandatanganan Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia–Kanada atau ICA-CEPA.
Duta Besar Kanada untuk Indonesia Jess Dutton menyampaikan dukungan tersebut di Jakarta, Senin. Pernyataan itu disampaikan usai peluncuran program Impact Investment Readiness in Indonesia atau IIRI.
Menurut Dutton, pertumbuhan ekonomi Indonesia sangat dipengaruhi partisipasi pelaku usaha perempuan. Kanada melihat peluang besar dari keterlibatan aktif perempuan dalam perekonomian nasional.
“Mendukung wirausaha perempuan mendorong pemberdayaan ekonomi dan pertumbuhan Indonesia secara menyeluruh,” ujar Dutton.
Ia menegaskan komitmen tersebut semakin relevan setelah perjanjian perdagangan bebas Indonesia–Kanada ditandatangani.
Program IIRI Dorong Akses Modal dan Kesiapan Investasi
Program IIRI menjadi salah satu instrumen utama dukungan Kanada. Program ini bertujuan memperkuat perusahaan yang berfokus pada perempuan.
IIRI menyediakan pelatihan bisnis dan keuangan bagi pelaku usaha perempuan. Program ini juga membantu meningkatkan kesiapan investasi perusahaan.
Kanada mendukung peluncuran program pendanaan ini karena melihat tantangan struktural yang dihadapi wirausaha perempuan. Akses terhadap permodalan masih menjadi hambatan utama.
“Keterlibatan perempuan dalam ekonomi dapat memaksimalkan potensi nasional,” kata Dutton.
Program IIRI dirancang untuk menjembatani kesenjangan pembiayaan. Pendekatan tersebut dilakukan melalui penguatan kapasitas bisnis yang berkelanjutan.
Baca juga: “Karawang dan Bandung Jadi Fokus Bapanas untuk Teknologi Sorgum”
UMKM Perempuan Hadapi Tantangan Permodalan
Dutton menjelaskan UMKM menjadi tulang punggung ekonomi Indonesia. Sekitar 99 persen badan usaha terdaftar berasal dari sektor UMKM.
Kondisi tersebut serupa dengan struktur ekonomi Kanada. Namun, UMKM masih menghadapi tantangan serius dalam akses pembiayaan.
Hambatan tersebut lebih besar bagi UMKM yang dipimpin perempuan. Banyak pelaku usaha perempuan belum terhubung dengan lembaga keuangan formal.
Kanada melihat kebutuhan intervensi melalui program yang terstruktur. Dukungan diberikan agar UMKM perempuan dapat naik kelas.
“UMKM perempuan perlu akses modal dan dukungan berkelanjutan,” ujar Dutton.
Fokus Wilayah di Luar Jawa dan Aspek Lingkungan
Program IIRI menyasar wilayah di luar pusat ekonomi nasional. Fokus utama mencakup Nusa Tenggara, Kalimantan, dan daerah lain di luar Jawa.
Wilayah tersebut dinilai memiliki potensi besar, namun belum optimal. Keterbatasan akses pembiayaan menjadi kendala utama.
Selain aspek ekonomi, program ini mengusung prinsip keberlanjutan. IIRI memasukkan komponen lingkungan dalam pelaksanaannya.
Program ini mendorong praktik usaha ramah lingkungan. Isu pengelolaan plastik dan mikroplastik menjadi perhatian utama.
“Kami memastikan program memiliki dampak lingkungan yang positif,” kata Dutton.
Pendekatan tersebut sejalan dengan agenda pembangunan berkelanjutan kedua negara.
Kolaborasi Global dan Target Pendanaan
IIRI merupakan hasil kolaborasi Global Affairs Canada dan Impact Investment Exchange. Impact Investment Exchange merupakan platform investasi global.
Program ini menargetkan pendanaan sebesar 27 juta dolar AS. Nilai tersebut setara sekitar Rp455 miliar dari sektor swasta.
Pendanaan diharapkan memperkuat ekosistem investasi berdampak di Indonesia. Fokus utama tetap pada perusahaan yang dipimpin perempuan.
Kolaborasi ini mencerminkan pendekatan Kanada dalam pembangunan internasional. Investasi berdampak menjadi instrumen utama kebijakan luar negeri ekonomi Kanada.
ICA-CEPA Perluas Akses Pasar Indonesia–Kanada
Dukungan terhadap wirausaha perempuan tidak terlepas dari ICA-CEPA. Perjanjian ini ditandatangani pada 24 September 2025 di Ottawa.
Penandatanganan dilakukan Menteri Perdagangan RI Budi Santoso dan Menteri Perdagangan Kanada Maninder Sidhu. Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Kanada Mark Carney menyaksikan langsung.
ICA-CEPA memberikan kepastian hukum bagi pelaku usaha kedua negara. Perjanjian ini juga memperluas akses pasar secara signifikan.
Kanada berkomitmen menghapus 90,5 persen tarif impor produk Indonesia. Sementara itu, Indonesia meliberalisasi 85,8 persen pos tarif.
Kesepakatan ini membuka peluang besar bagi UMKM Indonesia, termasuk yang dipimpin perempuan.
Peran Perempuan Kunci Pertumbuhan Inklusif
Dukungan Kanada terhadap wirausaha perempuan menegaskan arah kerja sama ekonomi yang inklusif. Perempuan ditempatkan sebagai penggerak utama pertumbuhan.
Melalui ICA-CEPA dan program IIRI, peluang akses pasar dan pembiayaan semakin terbuka. Pendekatan ini memperkuat daya saing UMKM perempuan.
Ke depan, kerja sama Indonesia dan Kanada diharapkan menciptakan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. Pemberdayaan wirausaha perempuan menjadi fondasi penting dalam agenda tersebut.
Baca juga: “Wamendag Dorong Kerja Sama Wirausaha Perempuan Indonesia-Pakistan”




Leave a Reply